Menu Tutup

Berteman Dengan Tangis

Di bawah naungan atap masjid putri, Pondok Pesantren Firdaus, Jembrana. Dengan ditemani ribuan bintang dan purnama yang menghiasi langit malam pulau Dewata, terdapat sosok santriwati berkerudung hitam tengah terduduk lesu di teras tangga masjid. Terlihat di pangkuannya sebuah mushaf yang ia pandangi dan perlahan ia peluk dengan erat. Sesekali terlihat ia mengusap pipi mulusnya yang mengalir sebuah cairan bening dari kelopak matanya.

Dia bernama Jasmin Athira, yang selalu di panggil dengan sebutan ‘Sisi’. Entah darimana sebutan Sisi itu berasal, karena namanya tidak ada unsur dari kata Sisi. Sisi berumur 14 tahun, dan sekarang ia tengah menjalani pendidikan kelas 3 SMP semester 1 di SMP Firdaus.

Sudah hampir 3 tahun lamanya, Sisi merantau pergi jauh dari rumah untuk menimba ilmu di sebuah tempat terpencil dekat dengan hutan, yang dihuni oleh anak lainnya yang seusianya atau mungkin lebih muda atau lebih tua dengan niat yang sama-sama ingin menuntut ilmu dunia dan agama untuk kepentingan dunia maupun akhirat. Tinggal jauh dari rumah dan orang tua serta meninggalkan segala kenyaman yang diproleh di rumah bukanlah hal yang mudah bisa dilakukan. Mau bagaimanapun itu semua butuh perjuangan bahkan air mata.

Tak jarang Sisi harus menahan rindu akan kedua orang tuanya yang hanya mampu menjenguknya sebulan sekali, atau bisa jadi lebih lama dari itu. Selain itu ia harus rela bangun lebih pagi bahkan dini hari daripada kebiasaannya ketika masih di rumah, yang tak lain itu adalah salah satu tugasnya menjadi seorang santri. Tak ayal lagi jika Sisi menjadi langaganan berdiri di lapangan karena telat bangun ke masjid, yang hampir setiap minggu pasti terkena hukuman. Makan dan mandi pun demikan, yang harus mengantri lama untuk menunggu giliran, lagi-lagi hal itu sering membuat Sisi terkena hukuman lantara telat ataupun kehabisan makanan. Awalnya, hal itu membuat Sisi merasa tak betah, namun ia menguatkan tekad, menyakinkan dirinya bahwa semua pelatihan ini adalah suatu usaha guna melatih mentalnya, melatih kepribadiannya, dan melatih bagaimana cara menghadapi dunia luar yang jauh lebih berat dari sekedar di sini. Sisi selalu teringat perkataan orang tuannya untuk selalu tabah dalam menuntut ilmu, karena bagaimana pun beginilah cara hidup di dunia Pondok Pesantren yang dipenuhi dengan berbagai macam praturan.

Dan selama hampir 3 tahun lamanya, setiap malam Sisi selalu menangis, hal ini bukan karena ia rindu rumah walaupun rasa rindu itu selalu menyerang Sisi masih bisa menguasinya. Akan tetapi tangis itu ia tunjukkan saat hafalan Qur’an yang terkadang susah untuk ia hafal, bahkan yang sudah ia hafal pun terkadang sukar untuk ia ingat.

“Bukan ana (saya; dalam Bahasa arab) kangen sama rumah atau orang tua ukhti (kakak; dalam Bahasa arab), tapi ana capek di hukum dan disuruh berdiri selama jam Tahfidz, yang lebih dari sejam, karena tidak hafal dan tidak lancar- lancar murojaahnya. Mana jam Tahfidz ada 2 kali lagi, pagi dan malam,” ungkapnya.

Sisi bukanlah anak yang lama dalam menghafal, hal ini dapat dibuktikan dengan dia yang masuk dalam halaqoh (kelompok) Tahfidz ODOP (one day one page), yang setiap harinya harus menyetorkan hafalan baru sebanyak 1 halaman, dan murojaah (mengulang hafalan yang pernah dihafal) sebanyak 5 halaman setiap harinya.

“Jika hanya menghafal 1 halaman per hari insyaallah ana sanggup, tapi jika murojaah 5 halaman itu yang agak susah, terutama ketika di hitung hutang. Apalagi kegiatan sekolah dan pondok sangat full ,” imbuhnya lagi

Kegiatan di Pondok Pesantren Firdaus memanglah sangat padat, bahkan untuk beristirahat full hanya bisa dilakukan dalam seminggu sekali dan itupun tidak sepenuhnya full dari pagi. Terbukti dari hari senin sampai jum’at sekolah umumnya dimulai dari pukul 08.00 wita sampai dengan pukul 16.00 wita, dengan jam tambahan seperti Tahsin Tahfidz yang diadakan sebanyak 2 kali pertemuan, di pagi hari yang dimulai selepas sholat subuh sampai pukul 06.00 wita, lalu malamnya dimulai dari selepas isya dengan durasi sebanyak satu jam. Selain itu, di sore harinya tepat setelah pulang sekolah, sekitar pukul 17.25 wita akan diadakan sekolah dengan pelajaran pondok yang disebut madin sampai menjelang maghrib. Belum lagi jika ada tambahan kegiatan dari bagian OSFIR (Organisasi Santri Firdaus), seperti muhadhoroh (pidato dalam 3 bahasa, yakni Bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia) yang diadakan di jum’at malam. Lalu di hari sabtu masih ada ekstrakurikuler yang terdiri dari seni, olahraga, sampai bela diri. Ketika hari minggu kepadatan kegiatan sedikit melonggar. Hanya hari minggu yang dapat digunaka untuk beristirahat dengan tenang walaupun terkadang masih ada kegiatan yang mendadak ataupun kegiatan ekstrakurikuler yang dipindah di hari minggu disebapkan saat hari sabtu pembimbingnya tidak hadir.

Hal itulah yang terkadang membuat banyak santri merasa berat dalam menghafal, terkhusus bagi halaqoh ODOP, seperti yang dirasakan Sisi. Memang menurut beberapa guru dan ahli, jika kebanyakan jam belajar akan mengakibatkan kerumitan tersendiri bagi sang pelajar. Fokus seorang dalam menyerap materi hanya dalam 10-15 menit dari awal pelajaran. Sisanya akan nge-blank ataupun tidak fokus kembali.

Hampir setiap menjelang tidur, ataupun ketika jam Tahfidz subuh Sisi selalu menangisi hafalan Qur’an nya, terutama murojaah yang banyaknya 5 halaman per hari dan paling sering terkena hutang. Karena system hutang hafalan itu lebih berat, daripada tumpukan PR yang didapat di sekolah. Hal ini karen hutang hafalan yang memiliki system jika di hari ini tidak menyetorkan capaian sesuai target maka akan bertambah pula hafalan yang akan disetorkan esoknya, sehingga membuat para santri yang memiliki hutang merasa terbebani dan kepikiran.

Beruntungnya Sisi tahan akan semua itu dalam waktu yang cukup lama walau ditemani dengan banyaknya air mata yang selalu keluar tapi itu bukan air mata yang sia-sia karena itu adalah air mata perjuangan yang akan dikenang ketika buah dari perjuangan itu sendiri sudah dapat di petik dan dinikmati hasilnya di masa mendatang. Seperti sebuah kutipan dari Imam Syafi’ yang selalu disampaikan kepada santri Firdaus, “Barangsiapa yang belum pernah merasakan pahitnya mencari ilmu walau hanya sesaat, ia akan menelan hinannya kebodohan sepanjang hidupnya”.

Begitulah keseharian Sisi yang selalu di temani dengan derai air mata disetiap perjuangannya, karena ia tetap memegang teguh pendirian dan cita-citanya yang mulia, yakni menjadi hafidzah 30 juz untuk membanggakan kedua orang tuanya, menaikkan derajatnya, dan memakaikan makhkota kebesaran di akhirat nanti.

“Insyaallah, ana kuat. Walau harus bangun lebih pagi dari teman-teman, walau harus selalu menitikkan air mata, dan selalu berdiri setiap jam Tahfidz,  karena ana ingin memberikan mahkota untuk ke dua orang tua di akhirat nanti,” ucapnya.

“Anissafaatu Husna

*Siswi Kelas SMA Firdaus

Posted in Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *